|
|
 Lambang |
|
| Semboyan: Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat, dan Bersahabat) |
|
Lokasi kota Bandung di peta pulau Jawa
|
|
Lokasi kota Bandung di peta Indonesia
|
Koordinat: 6°54′53,08″LU 107°36′35,32″BT |
| Negara | Indonesia |
| Hari jadi | 25 September 1810 |
| Pemerintahan |
| • Wali kota | Ridwan Kamil[1] |
| Populasi |
| • Total | jiwa |
| Demografi |
| • Suku bangsa | Sunda, Jawa, Tionghoa, Arab, dll |
| • Agama | Islam, Protestan, Katolik, Hindu,Buddha, Konghucu |
| • Bahasa | Sunda, Indonesia, Jawa |
| Zona waktu | WIB (UTC+7) |
| Kode telepon | +62 22 |
| Bandar udara | Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara |
| |
Pada tahun
1990 kota Bandung terpilih sebagai salah satu
kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah
Time.
[6]
Kota
kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan
Parijs van Java karena keindahannya. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan
mall dan
factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun
2007,
British Councilmenjadikan kota Bandung sebagai
pilot project kota terkreatif se-
Asia Timur.
[7] Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama
pariwisata dan
pendidikan.
Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa,
[8] secara geografis kota ini terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.
Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu
Sungai Cikapundung dan
Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di
Sungai Citarum. Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada
musim hujan.
Keadaan geologis dan tanah yang ada di kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada zaman kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan
Gunung Tangkuban Parahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan jenis andosol begitu juga pada kawasan dibagian tengah dan barat, sedangkan kawasan dibagian selatan serta timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan tanah liat.
Semetara iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk, dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.
[9]

Suasana Jalan Braga ke arah utara pada tahun (1908)
Kata "Bandung" berasal dari kata
bendung atau
bendungan karena terbendungnya
sungai Citarum oleh
lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama "Bandung" diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut
perahu bandungyang digunakan oleh Bupati Bandung,
R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari
Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di
Dayeuhkolot.
Berdasarkan filosofi Sunda, kata "Bandung" berasal dari kalimat "Nga-Bandung-an Banda Indung", yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-"Bandung"-an artinya menyaksikan atau bersaksi. "Banda" adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. "Indung" adalah Bumi, disebut juga sebagai "Ibu Pertiwi" tempat "Banda" berada. Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai "Banda". Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah "Banda Indung", yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, "Nu Nga-Bandung-an". Yang disebut sebagai Wasa atau Sanghyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.
Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda
Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya
Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama
Sangkyang Tikoro.
Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk pemukiman.
Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial
Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu
Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal
25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.
Kota Bandung secara resmi mendapat status
gemeente (kota) dari
Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal
1 April 1906[10] dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha pada tahun
1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.
[11]
Pada masa perang kemerdekaan, pada
24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan
Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu
Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.
Kota Bandung juga memiliki beberapa ruang publik seni seperti museum, gedung pertunjukan dan galeri diantaranya
Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya
Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada tahun
1955,
[34] Museum Sri Baduga, yang didirikan pada tahun
1974dengan menggunakan bangunan lama bekas Kawedanan Tegallega,
[35] Museum Geologi Bandung,
Museum Wangsit Mandala Siliwangi,
Museum Barli,
Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan,
Gedung Indonesia Menggugat dahulunya menjadi tempat
Ir. Soekarno menyampaikan pledoinya yang fenomenal (Indonesia Menggugat) pada masa penjajahan
Belanda,
Taman Budaya Jawa Barat (TBJB) dan
Rumentang Siang.
Kota ini memiliki beberapa kawasan yang menjadi taman kota, selain berfungsi sebagai
paru-paru kota juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat di kota ini.
Kebun Binatang Bandung merupakan salah satu kawasan wisata yang sangat diminati oleh masyarakat terutama pada saat hari
minggu maupun libur sekolah,
kebun binatang ini diresmikan pada tahun
1933 oleh pemerintah kolonial
Hindia-Belanda dan sekarang dikelola oleh Yayasan Margasatwa Tamansari.
[36] Selain itu beberapa kawasan wisata lain termasuk pusat perbelanjaan maupun
factory outlet juga tersebar di kota ini diantaranya, di kawasan
Jalan Braga, kawasan Cihampelas, Cibaduyut dengan pengrajin sepatunya dan Cigondewah dengan pedagang tekstilnya. Puluhan pusat perbelanjaan sudah tersebar di kota Bandung, beberapa di antaranya
Istana Plaza Bandung,
Bandung Indah Plaza,
Paris Van Java Mall,
Cihampelas Walk,
Trans Studio Mall,
Bandung Trade Center,
Plaza Parahyangan,
Balubur Town Square, dan
Metro Trade Centre. Terdapat juga pusat rekreasi modern dengan berbagai wahana seperti
Trans Studio Resort Bandung,
Trans Studio Bandung, yang terletak pada lokasi yang sama dengan
Trans Studio Mall.
Sementara beberapa kawasan pasar tradisional yang cukup terkenal di kota ini diantaranya Pasar Baru, Pasar Gedebage dan Pasar Andir. Potensi
kuliner khususnya tutug oncom, serabi, pepes, dan colenak juga terus berkembang di kota ini.
[37] Selain itu
Cireng juga telah menjadi sajian makanan khas Bandung, sementara
Peuyeum sejenis
tapaiyang dibuat dari singkong yang di
fermentasi, secara luas juga dikenal oleh masyarakat di
pulau Jawa.